Tampaknya PJJ di Indonesia
tidak terelakan lagi. New normal
akan gagal.
PJJ jangan lagi melibatkan
TVRI (Televisi Republik Indonesia).
Kecuali jika tidak ada tayangan
soal di akhir pembelajaran. Sebab
dengan adanya soal telah meng-
kungkung kebebasan siswa.
Kemendikbud terlalu memak-
sakan kehendak. Besar kemungkin-
an disebabkan menterinya tidak
menguasai bidang pendidikan,
meskipun sudah bergelar S-3.
Bidang pendidikan tidaklah
sesederhana yang dipikirkan.
Katanya "Merdeka Belajar".
Apanya yang merdeka?
Biarkan guru yang membuat
gayanya sendiri untuk pembela-
jaran jarak jauh.
Dana 9,3 miliar rupiah yang di-
bayarkan kemendikbud, biarlah
sudah sia-sia. Daripada menjadi
tontonan yang membebankan ke
siswa. Di rumah saja bukan berarti
memelototi dan mencatat tiap hari
dari Senin sampai Jumat dari ta-
yangan yang super mahal ini.
Banyak beban siswa selama
PJJ yang berlangsung 3 bulan itu
(Maret, April dan Mei). Tugas dari
guru membeludak, plus catatan
dan soal yang harus dijawab dari
TVRI. Sepertinya kurang kerjaan
saja kemendikbud kita. Dalam hal
ini TVRI-lah yang diuntungkan
atau istilahnya simbiosis komen-
salisme. Mungkin dua-duanya
sama-sama untung atau simbio-
sis mutualisme.
Pembelajaran jarak jauh
jangan dipaksakan. Apalagi jika
hanya menjadi beban. Mau diton-
ton atau tidak, jangan ada soal
dari TVRI. Biarkan siswa untuk
fokus kepada PJJ guru saja.
#menujukewarasanbaru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar