Kerja, kerja dan kerja macam tak
punya paru-paru. Begitulah yang ter-
jadi di Indonesia.
Entah mengadopsi dari mana
praktik tersebut. Bagus untuk pene-
rapan disiplin. Tetapi tidak bagus un-
tuk penghasilan pegawai.
Berikut hal yang dilakukan pe-
merintah (pusat/daerah):
1) Membuat sensor jari (finger print)
atau sensor mata
2) Memotong gaji pegawai dalam ki-
saran 5% - 20% jika terlambat
masuk kantor
3) Membuat aplikasi e-kerja dengan
poin-poin yang harus diisi pega-
wai secara harian.
4) Kegiatan ibadah shalat yang
tidak menjadi prioritas, sebab
mengganggu 3K (kerja, kerja
dan kerja).
Tampaknya manusia diang-
gap tak punya paru-paru. Kerja
tanpa istirahat. Di kantor dilema
dengan aturan kantor. Di rumah
masih dikejar aplikasi e-kerja.
Yah namanya pegawai pasti
menurut saja perintah big boss,
meskipun gajinya juga masih te-
tap dipotong.
Mereka tidak bisa melawan
secara frontal berhadap-hadapan.
Mereka melawan pakai jalur lu-
nak. Berunding, bernegosiasi sam-
pai mengemis habis-habisan.
Mengenai ini bagi daerah yang
belum menerapkan hal itu, jangan-
lah. Sekali-kali jangan. Berpikirlah
yang rasional. Menggaji pegawai
jangan dengan iming-iming dan hu-
kuman. Berilah gaji pegawai yang
sesuai. Tidak terlalu besar atau ter-
lalu kecil.
Sudah banyak contoh daerah
yang tidak ikhlas menggaji pega-
wainya. Sampai-sampai saat corona
mewabah masih masuk kantor, mes-
kipun muridnya libur. Dungu sekali,
yah pegawai, yah bos pembuat atur-
an.
#menujukewarasanbaru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar